Cerita Patung Batu Merah

Mereka membuat lingkaran. Saling berpegang tangan dan beberapa saat kemudian mulai menari. Kaki-kaki mereka dihentakkan ke depan, ke samping, dan ke belakang. Satu orang memutar tubuhnya, membuat gerakan koprol. Satu orang yang lain mulai bernyanyi. Nyanyian itu diikuti yang lainnya. Lalu semua yang ada dalam lingkaran itu turut bernyanyi. Mereka berpakaian hitamhitam. Lingkar mata mereka juga hitam. Di tengah-tengah mereka ada sebuah patung batu. Warnanya merah pekat seakan sekian lama direndam darah. Patung itu tertancap di tanah, tingginya tak sampai dada orang dewasa.

Sebelum mereka mulai melingkar, patung batu merah itu dibungkus kain hitam. Ayi Kaka, Si Kepala Kaum, telah membuka kain itu. Memang, hanya Kepala Kaum yang boleh membuka kain pembungkus itu. Ayi Kaka tidak ikut bernyanyi, dia berdiri di tengah lingkaran, berjalan mengelilingi patung batu merah berulang kali. Lalu dari tas kulit yang tersampir di pundak, dikeluarkannya sebatang emas. Dia berhenti, berdiri tegak dan mulai menggosok-gosok batang emas itu dengan telapak tangannya. Mulutnya komatkamit, tapi suaranya tenggelam oleh suara orang-orang yang bernyanyi sembari berputarputar kian cepat.

baca juga : http://retards101.com/mengenal-lebih-dalam-genset-tipe-open/

Ayi Kaka pelanpelan tampak menua di tengahtengah lingkaran itu. Mereka yang tidak ikut dalam lingkaran, berkumpul di sekitar. Sebagian di antaranya meraung-raung seperti kesurupan. “Pamanmu memang sudah tua,” kata bapak yang berdiri di sampingku. Aku menoleh, wajah bapak kelihatan risau. Kami—aku dan bapak—tiba di Lahamalo, tanah asal kami, tadi pagi. Sebenarnya aku malas datang. Di samping karena sedang banyak pekerjaan, aku juga tidak sepakat dengan keputusan yang dijatuhkan tetua adat.

Bapak punya pikiran yang sama denganku. Dia meneleponku dan menyampaikan pikirannya. Tapi karena para keluarga dan tetua kaum mendesak kami, permintaan untuk datang tak bisa kami tampik. Ada urusan besar yang harus dimusyawarahkan menyangkut martabat dan kehormatan kaum. Beberapa waktu lalu, Orang Daratan membuat masalah dengan kaum kami. Seorang pemuda dari Daratan diam-diam membawa lari anak gadis kaum kami.

Peristiwanya memang tidak terjadi di pulau ini, tapi di daerah lain di mana kedua orang muda itu merantau. Meskipun begitu, kehormatan tetaplah kehormatan. Tetua kami merasa terhina oleh peristiwa itu. Mereka mengirim seorang utusan untuk membicarakan persoalan tersebut. Hasilnya, utusan kami ditemukan di suatu tempat dalam keadaan luka parah.

Meski beberapa orang mengatakan bahwa utusan tersebut sempat mampir di kedai minum sebelum terlibat perkelahian dengan pengunjung lain, tetua kami sudah memutuskan bahwa Orang Daratan penyebab semuanya dan karenanya secara langsung telah menghina dan bahkan menantang perang kaum kami. Kami dipanggil untuk ikut musyawarah. Upacara yang sedang berlangsung ini adalah bagian dari persiapan perang. Kami menumpang kapal laut, singgah di beberapa bandar sebelum sampai ke Lahamalo.